Lanjutan Aksi Massa Dan Pernyataan Kades Gunung Raja Terkait PT GH EMMI

pelitapublik.com,MUARA ENIM – Masih berlanjutnya aksi dari masyarakat desa Gunung Raja Kecamatan Empat Petulai Dangku, kabupaten Muara Enim. Dikarenakan belum adanya pertemuan lanjutan yang mengarah ke titik kata sepakat, antara kedua belah pihak, yakni pihak perusahaan yang berada dalam naungan PT. GHEMMI dan juga masyarakat sekitar yang melakukan aksi., seperti yang kami lihat hari ini, Selasa 07/10/2020. Masih terlihat deretan mobil angkutan berat yang mengangkut batu koral, maupun beberapa unit mobil suplay BBM ke PT. LCL.

Pernyataan Kades Gunung Raja

“Kami dari pihak pemerintah desa sudah mengirimkan surat kepada pihak perusahaan agar sesegera mungkin mencari solusi dalam hal ini, agar permaslahan tidak berlarut-larut, dan kami saat ini standbye menunggu kabar kelanjutannya. Masalah tuntutan masyarakat, ya seperti yang kemarin itu, ada beberapa point yang telah dicantumkan dalam surat tuntutan itu, salah satunya yakni ada permintaan dari pak haji Hamanan, meminta agar di depan rumahnya itu minta di cor kan, karena seluruh angkutan berat ini melewati jalan itu.

Pada intinya masyarakat meminta agar apa yang jadi tuntutan warga dipenuhi, dan saya selalu siap jika diajak pertemuan, tapi kalau saya yang punya inisiatif datang sendiri gak mungkin lah, kalau ada undangan dari pihak perusahaan, saya siap hadir.

Saya berharap agar semua perusahaan yang melakukan kegiatan di wilayah gunung raja ini bisa bersinergi dengan masyarakat sekitar, jangan seperti ini. Kita lihat perusahaan-perusahaan ini seakan-akan saling melempar tanggung jawab, sepertinya ya, saya juga tidak tau itu.

Kepada masyarakat saya tetap berpesan agar selalu menjaga keamanan desa gunung raja ini, dan utamakan protokol kesehatan,” ujar Kades Armanto.

Suplayer BBM merasa kecewa karena tidak dilibatkan dalam perundingan, namun armada angkutan tanki minyak mereka di hadang oleh massa.

Lain lagi halnya dengan pihak pengurus penyedia bahan bakar minyak yang mensuplay ke PT. Lematang Coal Lestari (LCL) PT. Haniven Mulya Sarana. Bpk Biat selaku pengurus mengatakan kalau dirinya tidak diajak dalam perundingan ini, dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya baik dari PT LCL atau pun dari masyarakat. “Masyarakat ini menunggu keputusan dari PT. GH EMMI dan LCL atau pak Sumantro, selaku humasnya untuk kelanjutan dari perjanjian kepada mereka beberapa waktu yang lalu, yang bermusyawarah dengan masyarakat langsung adalah pak Sumantro, sedangkan kami tidak diberitahu, baik oleh pak Sumantro atau dari masyarakat, jadi kami tidak tau apa-apa yang menjadi isi tuntutannya itu.

Tiba-tiba kami diberi surat memberitahu bahwa armada kami tidak boleh masuk. Yang kami sesalkan kenapa pihak PT. LCL ini tidak memberi tahu kami tentang perihal ini. Dan saat kami telpon pak Abi Samran dia mengatakan kalau yang berkewajiban mengirim surat ke perusahaan subcon ini adalah managemen PT. LCL, yakni pak Sumantro, padahal kami ini kan melayani mereka, kenapa kami tidak diberi tahu, dan saat ini kami terkena imbasnya, armada kami tidak boleh lewat, sebenarnya kami juga sudah siap mengakomodir apa yang diminta masyarakat Gunung Raja, sesuai dengan kapasitas kami tentunya.

Sedangkan angkutan BBM ini kan tidak terlalu berat, dan juga yang kami lalui itu jalan pertamina. Dan PT. Patra Niaga ini adalah anak perusahan Pertamina jadi kami ini bingung pak, masak agen pertamina tidak boleh lewat jalan pertamina? Kami meminta juga agar pak Sumantro bisa turun ke lapangan agar permasalahan ini bisa cepat selesai.

Dengan pihak kepolisian kami juga sudah berkoordinasi, juga dengan pihak babinkamtibmas desa Gunung Raja, intinya kami meminta bantu kepada mereka, tolong agar disampaikan ke masyarakat kiranya bisa memberi kelonggaran kepada kami, dan kami tau masyarakat itu meminta kepada tiap perwakilan dari PT. GH, PT. LCL dan dari MPC agar bisa menemui masyarakat. Kalau melihat tuntutan mereka, yang dipermasalahkan oleh massa itu adalah dari pihak subcon PT GH EMMI, kalau memang demikian, janganlah kami yang kena imbasnya,” ungkap Biat sebagai pengurus pelaksana pengiriman BBM ke PT. LCL.

Pertemuan tengah berlangsung antara perwakilan perusahaan dan masyarakat.

Saat berita ini kami terbitkan, kami mendapat informasi dari Kadus dusun III kalau saat ini masih berlangsung pertemuan dirumahnya. Kadus Hayu Pratiwi yang sempat kami bincangi pagi tadi menjelaskan kalau saat ini belum ada kepastian dari pihak perusahaan.

“Belum ada info pak, kabarnya mereka masih berunding di PT. LCL, saya dengar ada juga turut hadir Kapolsek Rambang Dangku, namun kami belum tau pasti pak. Jika nanti ada kabar, kami infokan ke media,” ungkapnya.

Menyinggung ungkapan dari pengurus suplayer BBM yang merasa keberatan atas penyetopan, atau istilahnya putar balik kendaraan tanki suplay minyak mereka. Kades Gunung Raja mengatakan, kalau perusahaan-perusahaan subcon baik dibawah PT. GH ataupun LCL tidak pernah ada koordinasi dengan pemerintah desa kecuali PT. DAM.

Pernyataan pihak Pertamina

Perihal jalan yang dikatakan sebagai jalan pertamina oleh pihak suplayer BBM, kami menghubungi pihak staf humas pertamina EP 2, Bpk Erwin, yang menyatakan kalau benar adanya jalan tersebut adalah jalan pertamina.

“Kalau ditanyakan perihal jalan, ya jelas itu jalan pertamina dan dari pihak Pertamina EP Asset 2 pun sudah berkoordinasi dengan pihak PT. GH. Namun untuk lebih jelas silahkan konfirmasi dengan PEP Asset 2. Tapi kalau ditanyakan status jalan induk/utama, benar adanya itu aset Pertamina EP Asset 2,” ungkap Erwin.

Saat kami hubungi Pak Sutio selaku humas pertamina aset 2, beliau menyatakan akan menelusuri dulu perihal ini dan akan memberikan informasi besok jam 9.00 kepada media ini. (hans)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: